pernahkah Anda perhatikan pengaturan lalulintas yang ada pada ruas jalan yang Anda lewati terutama di persimpangan ?
dilihat dari "kacamata" keselamatan lalulintas, persimpangan yang tiap kaki persimpangannya berjauhan seperti gambar paling kiri berpotensi menimbulkan kecelakaan lalulintas lebih tinggi daripada persimpangan yang tiap kakinya tegak lurus..
untuk itulah saya menyebut persimpangan yang tiap kakinya berjauhan (stagger) dan persimpangan yang kaki persimpangannya miring (serong) sebagai persimpangan primitif...
melalui manual yang ditetapkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum, sekarang tiap persimpangan diarahkan untuk tegak lurus dan apabila kondisi lalulintas tinggi disarankan untuk menggunakan lampu lalu lintas (traffic light).. pada gambar diatas saya menyebutnya sebagai manajemen lalulintas modern...
namun apa yang terjadi belakangan ini ? sehubungan (akui sajalah) kesadaran masyarakat dalam berlalulintas masih demikian rendah maka pengaturan lalulintas modern pun dimodifikasi lagi... mungkin karena masyarakat pengguna jalan belum tahu bahwa di persimpangan (baik yang diatur atau tidak) ada "aturan tidak tertulis" yaitu skala prioritas yang mengutamakan arus lalulintas pada jalan utama (jalan mayor) maka para pengemudi masih saja terus-terusan "slonong boy" (=seureudeug) dan saling maksa untuk saling mendahului.. maka didesain lah manajemen lalu lintas kreatif sebagaimana gambar diatas (kanan bawah)... ga tau siapa yang mula-mulain tapi demikianlah jadinya.. :)
saya sendiri sampe sekarang belom begitu faham bagaimana penegakan hukumnya karena pengaturan lalulintas kreatif ini umumnya menggunakan rambu-rambu lalulintas yang "asal-asalan", ga sesuai standar, dan kayaknya sich ga ditetapkan dalam peraturan daerah.. padahal ini adalah dasar hukum utama untuk penegakkan hukumnya bila ada pengguna yang melanggar... rambu lalulintas dan sejenisnya dapat mengikat jika ia telah ditetapkan dalam aturan (daerah) dan disosialisasikan kepada masyarakat (sekurang-kurangnya dalam waktu 2 minggu khan?)....
apapun itu, kita semua memang sedang dalam proses belajar.. sepanjang niatannya baik, rasanya kita perlu hargai siapapun pencetus ide "manajemen kreatif" ini.. hehehehe... mantaps !
selamat datang di blog yang dikhususkan buat teman2 yang interest di bidang transportasi.....
(selaen transport juga gpp c.. sing penting happy! heheh)
Selasa, 15 Februari 2011
Minggu, 13 Februari 2011
ukuran keberhasilan pemerintah ...
"keberhasilan pemerintah dapat diukur dari pengurangan pengeluaran masyarakat untuk keperluan transportasi" demikian menurut pejabat Kementerian Perhubungan yang menurut pandangan saya sangat logis dan bisa diterima oleh mereka yang memang peduli pada kelangsungan penyelenggaraan transportasi di negara kita. mengapa demikian ? karena sejauh ini sistem transportasi yang dipandang sebagai "penggerak roda perekonomian" telah bekerja kebalikannya yaitu hanya sebagai penambah pemborosan negara, lihat saja kemacetan lalulintas, polusi udara, pemborosan energi dan lain sebagainya yang selama ini terus terjadi dan kelihatannya belum "menyentuh hati" siapapun untuk memperbaikinya...
beliau (pejabat Kementerian diatas) menghitung secara sederhana yaitu jika pengeluaran keluarga untuk transportasi diatas 20%, maka dapat dikatakan bahwa kinerja pemerintah elah gagal. di negara maju, pengeluaran transportasi yang dapat ditolerir adalah dibawah 10%. katakanlah jika income keluarga Anda dalah Rp 3 juta maka pengeluaran Anda untuk transportasi seharusnya adalah dibawah Rp 600 rb per bulan, jika lebih dari itu maka Anda boleh mengatakan bahwa pemerintah telah gagal... "kenapa pemerintah ga memperhatikan transportasi publik??" gitu yang dapat Anda pertanyakan....
terus kenapa yang diukur adalah kinerja pemerintahnya ? (konon khabarnya) karena arah penyelenggaraan transportasi sangat ditentukan oleh keinginan politik (political will)nya.. jika politik mengarah pada perbaikan transportasi maka transportasi kita akan membaik, sebaliknya jika politik kita lebih mengurusi hal-hal lain seperti bagi-bagi "rejeki" aja, ngurusin popularitas, masih berorientasi pada kepentingan pribadi ato golongan.. maka kayaknya sich kita masih belum bisa berharap banyak untuk perbaikan kualitas transportasi... inget khan pepatah bijak : "bagian yang diperhatikan akan lebih berkembang" ?
bertaburannya sepeda motor di jalan saat ini (katanya) dapat pula dianggap sebagai indikasi awal kekurangpedulian pemerintah kepada rakyatnya, seperti kekurangpedulian orang tua kepada anaknya, ketika anak tidak diberi "uang jajan" yang memadai, mungkin ia akan mencarinya sendiri ! demikian pula masyarakat kita.. ketika pemerintah tidak mempedulikan penyediaan transportasi publik maka masyarakat mencari alternatif lain seperti penggunaan sepeda motor yang harganya saat ini "lebih murah daripada kacang goreng" karena bisa bawa pulang motor tanpa DP !.. dan dipenuhilah jalan-jalan kita dengan moda angkutan yang tidak memenuhi standar keselamatan.. (liat trend kecelakaan lalulintas di negara kita !)...
jadi apa donk yang harus dilakukan oleh pemerintah kita ? btw, siapa yach penulis posting ga penting ini ? :)
beliau (pejabat Kementerian diatas) menghitung secara sederhana yaitu jika pengeluaran keluarga untuk transportasi diatas 20%, maka dapat dikatakan bahwa kinerja pemerintah elah gagal. di negara maju, pengeluaran transportasi yang dapat ditolerir adalah dibawah 10%. katakanlah jika income keluarga Anda dalah Rp 3 juta maka pengeluaran Anda untuk transportasi seharusnya adalah dibawah Rp 600 rb per bulan, jika lebih dari itu maka Anda boleh mengatakan bahwa pemerintah telah gagal... "kenapa pemerintah ga memperhatikan transportasi publik??" gitu yang dapat Anda pertanyakan....
terus kenapa yang diukur adalah kinerja pemerintahnya ? (konon khabarnya) karena arah penyelenggaraan transportasi sangat ditentukan oleh keinginan politik (political will)nya.. jika politik mengarah pada perbaikan transportasi maka transportasi kita akan membaik, sebaliknya jika politik kita lebih mengurusi hal-hal lain seperti bagi-bagi "rejeki" aja, ngurusin popularitas, masih berorientasi pada kepentingan pribadi ato golongan.. maka kayaknya sich kita masih belum bisa berharap banyak untuk perbaikan kualitas transportasi... inget khan pepatah bijak : "bagian yang diperhatikan akan lebih berkembang" ?
bertaburannya sepeda motor di jalan saat ini (katanya) dapat pula dianggap sebagai indikasi awal kekurangpedulian pemerintah kepada rakyatnya, seperti kekurangpedulian orang tua kepada anaknya, ketika anak tidak diberi "uang jajan" yang memadai, mungkin ia akan mencarinya sendiri ! demikian pula masyarakat kita.. ketika pemerintah tidak mempedulikan penyediaan transportasi publik maka masyarakat mencari alternatif lain seperti penggunaan sepeda motor yang harganya saat ini "lebih murah daripada kacang goreng" karena bisa bawa pulang motor tanpa DP !.. dan dipenuhilah jalan-jalan kita dengan moda angkutan yang tidak memenuhi standar keselamatan.. (liat trend kecelakaan lalulintas di negara kita !)...
jadi apa donk yang harus dilakukan oleh pemerintah kita ? btw, siapa yach penulis posting ga penting ini ? :)
Kamis, 03 Februari 2011
takut nyeberang jalan....
"sebuah kota dikatakan manusiawi bukan ketika ia memiliki jalan dan kendaraan tapi ketika orang tua merasa tenang membiarkan anak-anak balitanya bermain di lingkungan" itu kata para Leader kelas dunia yang telah sukses membangun kota seperti di Brazil, India, Columbia dll dsb...
bagaimana dengan kota kita? rasanya sich jangankan anak-anak yang jelas pengetahuan dan pengalamannya masih sangat minim, lha wong kita-kita aja yang udah banyak pengalaman hidup (dibaca: dah tua!) masih takut untuk berkeliaran di jalan,... mengemudi di jalan yang mana pengemudi ugal-ugalan yang notabene mungkin ga punya SIM (sekalipun punya mungkin bisa diragukan keabsahannya).. apalagi yang namanya menyeberang jalan! rasanya menyeberang di jalan-jalan kita serasa antara hidup dan mate gitu.. saya sih kalo boleh bawa galah ato bawa tameng mending bawa aja daripada harus mempertaruhkan nyawa kayak begitu... pak polisi pengatur lalu lintas aja ada yang ketabrak motor di Bandung! :(
saya juga suka perhatiin sih pegimana cara orang-orang nyeberang di kondisi ini, umumnya para penyeberang emang nekad, mungkin di otaknya adalah "demi sebuah perubahan maka saya harus menyeberang!".. kalo pengemudi sepeda motor, umumnya sih sekarang emang "seureudeug" (apa yah bahasa indonesianya? bingung).. yaaa muka motor tuh ditongolin duluan gitu dengan harapan kendaraan lain berhenti.. ini metode menyeberang terbaru dibanding metode lama yang menggunakan cara "mlipir-mlipir" (nyuri-nyuri dari samping gitu deeh)
pikir-pikir kita aja yang masih sehat (jasmaninya, ga tau kalo rokhaninya) punya perasaan deg-degan sewaktu menyeberang jalan, pegimana kalo orang jompo, kaum diffable (penyandang cacat)... kayaknya mereka akan selalu berpandangan bahwa dunia ini bener-bener ga adiiiil !...
sebenernya sih udah ada upaya untuk menyediakan fasilitas penyeberangan , katakanlah zebra cross, jembatan dan terowongan penyeberangan.. namun itu juga kayaknya sih belom ada efektinya.. penyeberang males menggunakan jembatan penyeberangan karena terutama wanita suka diintipin roknya pas waktu naek-turun jembatan.. terowongan juga kurang disukai karena mereka takut kesendirian.. apalagi sekarang khan kejahatan terus meningkat di tempat-tempat umum seperti itu.... untuk zebra cross, katanya sih emang orang indonesia yang sukanya intant-instant ini ga suka kalo harus nyari-nyari zebra cross hanya untuk menyeberang, mungkin prinsipnya "ngapain cari nyang jauh kalo bisa lewat jalan yang deket" kale... upaya pemerintah dengan menuliskan "penyeberang jalan pada zebra cross ini dilindungi Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009" juga kayaknya sih belom bisa mengambil hati masyarakat yang konon kabarnya tingkat kepercayaannya kepada pemerintah masih rendah.. mungkin karena keseringan diboongin orang kalee..
dengan kondisi yang menyulitkan pergerakan manusia ini, masyarakat yang mampu untuk membeli mobil akan terus kemana-mana memakai mobilnya, karena emang lebih aman di dalem mobil daripada jalan-jalan sendirian khan ? tinggal tutup kaca jendela, simpen obeng di samping kemudi, kalo ada yang macem-macem yang tinggal colok aja matanya.. kalo yang cewek mungkin tinggal bawa semprotan !... kondisi ini juga dengan sendirinya akan terus membuat penggunaan kendaraan pribadi menjadi primadona di negara kita.. padahal udah kita bahas sebelumnya bahwa umur penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil ini paling-paling sampe Tahun 2020, khan ? yaaa.. emang bagus sich buat dealer mobil ! tapi jelas ga bagus buat kemajuan sosial kemasyarakatan negara kita.. bukankah tujuan nasional kita daridulunya juga adalah menuju masyarakat yang adil dan makmur ? lha kalo cuman mereka yang mampu beli kendaraan aja yang bisa (sedikit) merasa aman dan nyaman di jalan, artinya khan tujuan nasional kita ga tercapai.. bukan begitu brader ?
lalu apa dong yang seharusnya kita lakukan untuk setidaknya membuat para penyeberang jalan merasa aman yang pada gilirannya akan mendorong pengurangan penggunaan kendaraan pribadi, mengurangi pemborosan energi, serta mungkin ujung-ujungnya dapat membuat kota kita sedikit lebih manusiawi ? kayaknya sich emang perlu perbaikan secara keseluruhan (holistik), dari penyediaan fasilitas pejalan kaki yang memadai dan "disukai", kepastian hukum, dan pembangunan infastruktur yang berpihak publik....
emang sich solusi diatas terlalu luas, kayaknya perlu penjelasan rinci... tapi sabar aja brader and sisters... kapan-kapan kita bahas kalo ada waktu dan kesempatan, kalo ga lupa, kalo lagi mau, dan mungkin kalo utang kita udah lunas.. untuk sementara ini saya minta respon aja dech dari pembaca.. what do u think ? :)
==========
tips :
"sementara belom ada fasiltias penyeberangan jalan yang memadai, saya sangat menyarankan agar para penyeberang jalan terutama anak-anak, wanita dan orang tua untuk menyeberang dengan bergerombol" :)
bagaimana dengan kota kita? rasanya sich jangankan anak-anak yang jelas pengetahuan dan pengalamannya masih sangat minim, lha wong kita-kita aja yang udah banyak pengalaman hidup (dibaca: dah tua!) masih takut untuk berkeliaran di jalan,... mengemudi di jalan yang mana pengemudi ugal-ugalan yang notabene mungkin ga punya SIM (sekalipun punya mungkin bisa diragukan keabsahannya).. apalagi yang namanya menyeberang jalan! rasanya menyeberang di jalan-jalan kita serasa antara hidup dan mate gitu.. saya sih kalo boleh bawa galah ato bawa tameng mending bawa aja daripada harus mempertaruhkan nyawa kayak begitu... pak polisi pengatur lalu lintas aja ada yang ketabrak motor di Bandung! :(
saya juga suka perhatiin sih pegimana cara orang-orang nyeberang di kondisi ini, umumnya para penyeberang emang nekad, mungkin di otaknya adalah "demi sebuah perubahan maka saya harus menyeberang!".. kalo pengemudi sepeda motor, umumnya sih sekarang emang "seureudeug" (apa yah bahasa indonesianya? bingung).. yaaa muka motor tuh ditongolin duluan gitu dengan harapan kendaraan lain berhenti.. ini metode menyeberang terbaru dibanding metode lama yang menggunakan cara "mlipir-mlipir" (nyuri-nyuri dari samping gitu deeh)
pikir-pikir kita aja yang masih sehat (jasmaninya, ga tau kalo rokhaninya) punya perasaan deg-degan sewaktu menyeberang jalan, pegimana kalo orang jompo, kaum diffable (penyandang cacat)... kayaknya mereka akan selalu berpandangan bahwa dunia ini bener-bener ga adiiiil !...
sebenernya sih udah ada upaya untuk menyediakan fasilitas penyeberangan , katakanlah zebra cross, jembatan dan terowongan penyeberangan.. namun itu juga kayaknya sih belom ada efektinya.. penyeberang males menggunakan jembatan penyeberangan karena terutama wanita suka diintipin roknya pas waktu naek-turun jembatan.. terowongan juga kurang disukai karena mereka takut kesendirian.. apalagi sekarang khan kejahatan terus meningkat di tempat-tempat umum seperti itu.... untuk zebra cross, katanya sih emang orang indonesia yang sukanya intant-instant ini ga suka kalo harus nyari-nyari zebra cross hanya untuk menyeberang, mungkin prinsipnya "ngapain cari nyang jauh kalo bisa lewat jalan yang deket" kale... upaya pemerintah dengan menuliskan "penyeberang jalan pada zebra cross ini dilindungi Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009" juga kayaknya sih belom bisa mengambil hati masyarakat yang konon kabarnya tingkat kepercayaannya kepada pemerintah masih rendah.. mungkin karena keseringan diboongin orang kalee..
dengan kondisi yang menyulitkan pergerakan manusia ini, masyarakat yang mampu untuk membeli mobil akan terus kemana-mana memakai mobilnya, karena emang lebih aman di dalem mobil daripada jalan-jalan sendirian khan ? tinggal tutup kaca jendela, simpen obeng di samping kemudi, kalo ada yang macem-macem yang tinggal colok aja matanya.. kalo yang cewek mungkin tinggal bawa semprotan !... kondisi ini juga dengan sendirinya akan terus membuat penggunaan kendaraan pribadi menjadi primadona di negara kita.. padahal udah kita bahas sebelumnya bahwa umur penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil ini paling-paling sampe Tahun 2020, khan ? yaaa.. emang bagus sich buat dealer mobil ! tapi jelas ga bagus buat kemajuan sosial kemasyarakatan negara kita.. bukankah tujuan nasional kita daridulunya juga adalah menuju masyarakat yang adil dan makmur ? lha kalo cuman mereka yang mampu beli kendaraan aja yang bisa (sedikit) merasa aman dan nyaman di jalan, artinya khan tujuan nasional kita ga tercapai.. bukan begitu brader ?
lalu apa dong yang seharusnya kita lakukan untuk setidaknya membuat para penyeberang jalan merasa aman yang pada gilirannya akan mendorong pengurangan penggunaan kendaraan pribadi, mengurangi pemborosan energi, serta mungkin ujung-ujungnya dapat membuat kota kita sedikit lebih manusiawi ? kayaknya sich emang perlu perbaikan secara keseluruhan (holistik), dari penyediaan fasilitas pejalan kaki yang memadai dan "disukai", kepastian hukum, dan pembangunan infastruktur yang berpihak publik....
emang sich solusi diatas terlalu luas, kayaknya perlu penjelasan rinci... tapi sabar aja brader and sisters... kapan-kapan kita bahas kalo ada waktu dan kesempatan, kalo ga lupa, kalo lagi mau, dan mungkin kalo utang kita udah lunas.. untuk sementara ini saya minta respon aja dech dari pembaca.. what do u think ? :)
==========
tips :
"sementara belom ada fasiltias penyeberangan jalan yang memadai, saya sangat menyarankan agar para penyeberang jalan terutama anak-anak, wanita dan orang tua untuk menyeberang dengan bergerombol" :)
Minggu, 30 Januari 2011
sampe kapan boleh naek mobil ?
"persediaan bahan bakar fosil kita hanya akan cukup sampe tahun 2018, jika kita menghemat mungkin bisa sampe 2020" itu statement mengerikan yang pernah saya dengar dari sebuah sumber yang kayaknya sich bisa untuk dipercaya...
bener ato ga nya statement itu saya ga berani untuk menjamin, tapi jika kita lihat fenomena saat ini maka itu bukanlah hal yang mustahil. untuk Indonesia saja, menurut Gaikindo "Pasar mobil tahun 2011 diperkirakan akan mampu menembus angka 800 ribu unit atau naik 11 persen dibanding tahun 2010 sekitar 720 ribu unit".
anggap saja dech statement diatas benar adanya.. lalu apa yang harus kita lakukan ?
tentu saja selalu ada sekurang-kurangnya dua alternatif dalam segala sesuatu..
alternatif pertama, kita nikmati saja pemakaian mobil berbahan bakar fosil (minyak) sampe waktunya habis, biarin aja dech ga usyah difikirin anak cucu kita mah, nanti juga mereka akan cari teknologi baru untuk mobilitasnya katakanlah mereka cari teknologi dengan tenaga surya, tenaga air, tenaga matahari, whatever...
alternatif kedua, anggap saja kita punya sedikit kepedulian kepada generasi penerus kita.. dari sekarang kita mulai berhemat dengan mengurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil tadi ke moda (kendaraan) lain yang ramah lingkungan seperti naek sepeda, andong, ato becak yang jelas-jelas tingkat polusinya juga rendah, paling-paling juga "olok kejo" (=ngabisin nasi gitu rojer!) karena sekali narik tukang becaknya makan dua piring gitu... ato bisa juga pemerintah "memaksakan" pengalihan moda (kendaraan) ini dengan menggalakan angkutan umum massal, terserah mo berbasis rel (dengan kereta api) ato berbasis jalan (dengan prioritas untuk bus besar).. apa aja yang penting penggunaan bahan bakar dibatasi habis-habisan..
saya ga faham alternatif mana yang mungkin disukai oleh kebanyakan kita.. yang jelas sekarang kita hidup di negara demokrasi yang katanya "one man one vote" (=satu orang satu suara), jadi hak Anda yang mungkin saat ini jadi jagoan terminal ato penguasa kawasan ato apa lah tetap sama dengan saya yang saat ini berprofesi sebagai tukang ngomentarin orang... kita lakukan aja jajak pendapat, kayak pemilu gitu lah... kita tanya seluruh warga masyarakat dari aki-aki sampe yang baru lahir : "Anda pilih mana, mau pake sepeda ato naik angkutan umum ato tetep hura-hura dengan kendaraan pribadi?"
kira-kira pegimana yaa hasilnyaaa ??? ;)
------
bacaan :
gasprices.pdf
bener ato ga nya statement itu saya ga berani untuk menjamin, tapi jika kita lihat fenomena saat ini maka itu bukanlah hal yang mustahil. untuk Indonesia saja, menurut Gaikindo "Pasar mobil tahun 2011 diperkirakan akan mampu menembus angka 800 ribu unit atau naik 11 persen dibanding tahun 2010 sekitar 720 ribu unit".
anggap saja dech statement diatas benar adanya.. lalu apa yang harus kita lakukan ?
tentu saja selalu ada sekurang-kurangnya dua alternatif dalam segala sesuatu..
alternatif pertama, kita nikmati saja pemakaian mobil berbahan bakar fosil (minyak) sampe waktunya habis, biarin aja dech ga usyah difikirin anak cucu kita mah, nanti juga mereka akan cari teknologi baru untuk mobilitasnya katakanlah mereka cari teknologi dengan tenaga surya, tenaga air, tenaga matahari, whatever...
alternatif kedua, anggap saja kita punya sedikit kepedulian kepada generasi penerus kita.. dari sekarang kita mulai berhemat dengan mengurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil tadi ke moda (kendaraan) lain yang ramah lingkungan seperti naek sepeda, andong, ato becak yang jelas-jelas tingkat polusinya juga rendah, paling-paling juga "olok kejo" (=ngabisin nasi gitu rojer!) karena sekali narik tukang becaknya makan dua piring gitu... ato bisa juga pemerintah "memaksakan" pengalihan moda (kendaraan) ini dengan menggalakan angkutan umum massal, terserah mo berbasis rel (dengan kereta api) ato berbasis jalan (dengan prioritas untuk bus besar).. apa aja yang penting penggunaan bahan bakar dibatasi habis-habisan..
saya ga faham alternatif mana yang mungkin disukai oleh kebanyakan kita.. yang jelas sekarang kita hidup di negara demokrasi yang katanya "one man one vote" (=satu orang satu suara), jadi hak Anda yang mungkin saat ini jadi jagoan terminal ato penguasa kawasan ato apa lah tetap sama dengan saya yang saat ini berprofesi sebagai tukang ngomentarin orang... kita lakukan aja jajak pendapat, kayak pemilu gitu lah... kita tanya seluruh warga masyarakat dari aki-aki sampe yang baru lahir : "Anda pilih mana, mau pake sepeda ato naik angkutan umum ato tetep hura-hura dengan kendaraan pribadi?"
kira-kira pegimana yaa hasilnyaaa ??? ;)
------
bacaan :
gasprices.pdf
Kamis, 20 Januari 2011
dibuat untuk dilanggar...
siapa nyana kalo bukan hanya aturan hukum aja (katanya) yang dibuat untuk dilanggar..
coba kita perhatikan... udah jelas bahwa kendaraan yang kita pake mempunyai limit kecepatan rata-rata diatas 100 km/jam eeeh dibatasi katanya di dalam kota hanya boleh 40 km /jam sedangkan di luar kota 60 km/jam dan di jalan tol 100 km/jam... jangankan pengemudi mobil yang kekuatannya ada yang sampe 250 km/jam sedangkan pengemudi sepeda motor aja yang kemampuannya sampe 180 km/jam selalu gatel untuk melanggar batasan kecepatan lalulintas itu.. rasanya cuman gerobak siomay aja yang ga melanggar kecepatan lalulintas, itu juga kalo tukang siomaynya ga memodifikasi gerobaknya pake mesin gituh... :)
contoh lain, udah jelas bahwa internet itu bisa digunakan untuk melihat segala macem tanpa batasan.. dari yang positif sampe yang negatif bisa kita temukan di internet.. ehh bisa2nya dibatasi, ga boleh ini, ga boleh itu... huuhh.. jadi ga asyik donk buka internet kalo banyak batasan begitu.. kenapa ga ditutup aja sekalian ga boleh maen internet gitu ?
berikutnya contoh yang ngawur, untuk 17 tahun keatas, kita para lelaki yang (maaf) dikasih kemaluan dengan keinginan yang ga ada puasnya seperti ingin mencoba segala jenis lubang-lubangan dari lubang buaya sampe lubang belut dibatasi harus setia pada satu pasangan.. lha khan yang beginian kalo dipendam bisa jadi jerawat, mending kalo cuman jereawatan kalo pada nyari jajanan di luar pegimana ? mungkin karena banyak batasan yang setengah2 model beginih maka tempat jajanan pun sekarang ga di tempat remeng-remeng lagi tapi malah dagang di tempat yang terang-terangan...
-----------
jelas khan yang saya maksudkan banyak hal yang dibuat untuk dilanggar? iyaaa.. ngerti.. saya terlalu negatif khan ?
awalnya saya berfikiran bahwa kalo emang ga boleh mengemudikan kendaraan diatas 40 km/jam kenapa ga kita batasi aja semenjak kendaraan itu dibuat? kalo intertet ga bebas kenapa ga kita tutup aja perusahaan-perusahaan parno nya ? kalo minum-minuman keras ga boleh dikonsumsi kenapa pabrik pembuatnya dibiarkan ? kalo para lelaki hanya boleh memiliki satu wanita, kenapa lelaki ga didesain hanya bisa "mencintai" satu wanita aja ? kenapa mata lelaki tetap dibiarkan jelalatan ?
tapi saya pikir-pikir lagi kalo saya protes mulu mungkin saya bisa dicap "pembangkang" kale.. masalahnya diantara benda-benda yang saya contohkan diatas diantaranya ada juga yang langsung dibuat Tuhan, kalo bikinan manusia sich gapapa kale diprotes, lha kalo bikinan Tuhan khan ga boleeehh...
lagian pada awalnya saya kepikiran bahwa banyak hal yang dibuat untuk dilanggar itu setelah mengingat ucapan Einstein yang katanya kurang lebih bahwa hal yang paling menjatuhkan martabat pemerintah adalah ketika pemerintah meloloskan aturan yang ga mungkin dilaksanakan.. setelah saya pikirin, lah banyak sekali yang dibuat untuk dilanggar di dunia ini... :)
dah ah.. daripada pusing, kita anggap aja bahwa begitulah cara Tuhan mempertahankan kehidupan kita-kita sebagai makhluknya.. kenapa peluang atas pelanggaran dibiarkan terjadi ? biar nambah profesi pekerjaan ! kenapa manusia banyak yang jadi maling ? biar polisi ada kerjaannya.... kenapa lelaki diberi peluang untuk punya isteri lebih dari satu ? biar dia ga berhenti berusaha karena persyaratan untuk poligami adalah punya kelebihan harta atau ilmu... lagian mana ada wanita yang mau ama lelaki kere di jaman sekarang ? ;) kalo dikembalikan begitu khan kebingungan kita dah terjawab... selesai khan ? hehehe...
Selasa, 18 Januari 2011
apakah kita perlu Standar Pelayanan ?
definisi standar pelayanan (sapenake dewe) adalah kurang lebih kesepakatan yang mengatur jenis dan mutu pelayanan yang berhak diperoleh seseorang... seseorang itu menurut pendapat saya boleh siapa aja dan dalam posisi apa aja, katakanlah warga negara, sebagai anak, isteri, suami, pokoknya apa aja yang disepakati untuk diperoleh....
selama ini yang sering diperbincangkan orang adalah standar pelayanan minimal bahkan ada aturan untuk menyusunnya yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal, dalam peraturan tersebut disebutkan definisi "Standar Pelayanan Minimal yang selanjutnya disingkat SPM adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal". disebutkan pula bahwa "Pelayanan Dasar adalah jenis pelayanan publik yang mendasar dan mutlak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sosial, ekonomi dan pemerintahan".
merujuk pada definisi dan penjelasan diatas, kalo kita ditanya apakah kita perlu menyusun standar pelayanan (minimal) ? kayaknya sich jawabannya adalah so pasti ! kenapa ? yaa.. gampangnya sich kalo kita semua sudah menyepakati pelayanan apa yang berhak diperoleh maka kita mudah menentukan mana hak kita mana yang bukan. sebagai contoh, jujur aja sampe sekarang saya masih bingung kalo ditanya "apa hak Anda sebagai warga negara?".. Yaa.. kalo Anda (pembaca) sich mungkin ga bingung, kalo saya mah dari dulu pusing tujuh keliling karena katakanlah di Undang-undang dasar kita disebutkan bahwa kita berhak mendapat pendidikan, mendapatkan penghidupan yang layak, fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara dan lain sebagainya tapi sampe sekarang buanyak sekali warga negara yang miskin dan dicuekin (dibaca: ditelantarkan) oleh negara... sampe sekarang juga sepengetahuan saya sich belom pernah ada yang nuntut ke negara tuch.... mungkin khan karena warga negara belom tau ukuran kesejahteraan itu semana, pendidikannya sampe dimana yang jadi tanggung jawab negara.. okey2 sekarang dah ada yang katanya 9 tahun... tapi sekolah gratis juga denger2 masih banyak yang membebani siswanya dengan iuran ini itu... bener ga yah ?
okey contoh lain, sepasang kekasih yang dimabuk cinta... ceritanya sang jejaka menjanjikan gadis pujaan hatinya untuk membahagiakan hidupnya suatu hari nanti jika mereka menikah.. ketika mereka telah menikah, sang kekasih yang udah jadi emak2 ini protes... "kenapa kang mas tidak membahagiakan dan mencukupi kebutuhan diriku seperti janji mu dulu?"..... sang suami tambah bingung karena menurut perasaannya dia udah memberikan segala kepemilikan dan usahanya untuk isteri tercinta tapi kok ga berterima kasih juga..... ini juga menegaskan bahwa ukuran standar pelayanan itu perlu disepakati dengan jelas dan rinci khan ? berapa mobil yang harus dimiliki oleh isterinya, berapa besar ukuran rumah yang harus dibangun dan disediakan oleh sang suami, berapa kali isteri melayani suaminya, berapa uang belanja yang harus disediakan de el el de es be adalah ukuran standar pelayanan yang harusnya disepakati sebelum mereka menikah ! (biar ga pada protes suatu hari nanti)....
iya sih.. kita orang-orang timur ini khan emang kadang sungkan (=malu2 kucing) kalo harus menuliskan kesepakatan-kesepakatan model begituh.. liat aja ketika seorang calon pegawai diwawancara, "berapa gaji yang Anda harapkan dari pekerjaan ini?" ..umumnya kita menjawab "terserah Anda aja deh yang penting cukup (buat beli ini itu)".... ketika ia diterima bekerja dan mendapatkan gaji, ia baru protes ato minimal ngegerundel "kenapa gaji gue cuman segini ?!".. saya berkeyakinan kalo pegawai itu menyampaikan protes kepada pimpinannya, si bos akan nanya balik "kenapa lo ga ngomong dari dulu ?!"
saya tidak mengatakan bahwa malu itu jelek karena saya juga meyakini bahwa "malu adalah sebagian dari iman" tapi tentu saja malu yang dimaksudkan disini adalah malu yang pada tempatnya, bukan yang malu-maluin. untuk hal-hal yang kira-kita membawa potensi "perselisihan" di masa mendatang ga da salahnya khan kalo kita menuliskan kesepakatan-kesepakatan standar pelayanan (kalo yang kira2 malu untuk dituliskan yaa diinget bersama aja) misalnya warga negara berhak mendapatkan air yang layak minum, kalo air ga layak minum maka kita boleh nuntut pemerintah... warga negara berhak mendapatkan kedamaian, kalo ada yang bikin keributan kita bisa telpon polisi sesuai motto mereka "to serve and protect", warga negara berhak mendapatkan KTP, kita ga usah repot-repot bolak balik ke RT, RW, kelurahan, Camat dll karena itu hak kita, aparat pemerintah yang harus mengantarkannya ke rumah kita..... ga usah jauh-jauh kita liat ke negara maju seperti Amerika yang standar pelayanannya diatur dengan jelas dan diketahui semua masyarakat sampe setiap masyarakat punya buku hak warga negara yang tebelnya mungkin sama dengan buku Harry Potter... di Malaysia aja yang beginian dah diatur, di Malaysia warga negara ga usah sibuk-sibuk bikin akte kelahiran dan KTP karena Pemerintah yang menyediakannya, bahkan bisa sekaligus jadi ATM !.. yaa tentu saja yang beginian harus dibarengi dengan kesadaran untuk membayar pajak.. jangan kayak penulis yang bisanya protes doang, pas diminta bayar pajak ngilang ! hehe
jadi jelas yach arti pentingnya standar pelayanan sekarang ? belom faham? silakan baca lagi dari atas sebelum melanjutkan bacanya :) <-- gaya banget ! :)
kayaknya sich kalo ada ukuran minimal harusnya ada maksimalnya juga ya ? makanya judul tulisan ini adalah standar pelayanan yang mencakup minimal dan maksimal... dengan pola fikir bahwa kebutuhan standar pelayanan ini adalah supaya kita-kita yang terlibat dalam suatu sistem tertentu ga pada bakalai (=berkelahi) suatu saat nanti karena memperebutkan pepesan kosong, beradu argumen bahwa ini ga sesuai, itu ga sesuai padahal ukuran kesesuaiannya juga ga pernah ada ....silakan Anda resapi, standar pelayanan maksimal juga rasanya perlu... kenapa perlu ? jawabannya adalah untuk melindungi hak pelayannya (yang memberikan pelayanan)...
katakankah isteri adalah yang menerima layanan, suami yang memberi pelayanan, dan katakanlah pelayanannya adalah memberi uang belanja dengan besaran Rp 5 juta perhari (kekecilan yah? gapapa namanya juga contoh)... jika 5 juta itu adalah ukuran kelayakan kehidupan isteri, maka kita juga perlu mempertimbangkan kesanggupan suaminya yang kemudian dijadikan standar pelayanan maksimalnya katakanlah Rp. 100 juta/hari.... jika suatu hari nanti suami hanya bisa memberi Rp 3 juta/hari maka isteri boleh menggugat cerai suaminya, dan jika suatu saat suami mendapat penghasilan Rp 500 juta per hari maka hak isteri untuk minta uang kepada suaminya hanya Rp 100 juta saja, sisanya ? yaa terserah suami dong.. mo jajan apa kek dengan 400 jutanya... suka2 dia lah...
supaya adil, contohnya kita balik, jika isteri jadi pelayan dan suami yang menerima pelayanan... katakanlah pelayanan isteri minimal adalah 5x nyuci dan nyetrikain baju suaminya per hari dan maksimal 10 baju per jam... jika suatu saat baju suaminya yang 5 lemari itu kotor semua, suami ga boleh memaksakan isterinya untuk nyuci dan nyetrika semuanya dalam satu jam beres semua... begitu dech....
gitu kira-kira pendapat saya mengenai standar pelayanan ini.. gimana pendapat Anda ? give me a respond, please :)
selama ini yang sering diperbincangkan orang adalah standar pelayanan minimal bahkan ada aturan untuk menyusunnya yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal, dalam peraturan tersebut disebutkan definisi "Standar Pelayanan Minimal yang selanjutnya disingkat SPM adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal". disebutkan pula bahwa "Pelayanan Dasar adalah jenis pelayanan publik yang mendasar dan mutlak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sosial, ekonomi dan pemerintahan".
merujuk pada definisi dan penjelasan diatas, kalo kita ditanya apakah kita perlu menyusun standar pelayanan (minimal) ? kayaknya sich jawabannya adalah so pasti ! kenapa ? yaa.. gampangnya sich kalo kita semua sudah menyepakati pelayanan apa yang berhak diperoleh maka kita mudah menentukan mana hak kita mana yang bukan. sebagai contoh, jujur aja sampe sekarang saya masih bingung kalo ditanya "apa hak Anda sebagai warga negara?".. Yaa.. kalo Anda (pembaca) sich mungkin ga bingung, kalo saya mah dari dulu pusing tujuh keliling karena katakanlah di Undang-undang dasar kita disebutkan bahwa kita berhak mendapat pendidikan, mendapatkan penghidupan yang layak, fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara dan lain sebagainya tapi sampe sekarang buanyak sekali warga negara yang miskin dan dicuekin (dibaca: ditelantarkan) oleh negara... sampe sekarang juga sepengetahuan saya sich belom pernah ada yang nuntut ke negara tuch.... mungkin khan karena warga negara belom tau ukuran kesejahteraan itu semana, pendidikannya sampe dimana yang jadi tanggung jawab negara.. okey2 sekarang dah ada yang katanya 9 tahun... tapi sekolah gratis juga denger2 masih banyak yang membebani siswanya dengan iuran ini itu... bener ga yah ?
okey contoh lain, sepasang kekasih yang dimabuk cinta... ceritanya sang jejaka menjanjikan gadis pujaan hatinya untuk membahagiakan hidupnya suatu hari nanti jika mereka menikah.. ketika mereka telah menikah, sang kekasih yang udah jadi emak2 ini protes... "kenapa kang mas tidak membahagiakan dan mencukupi kebutuhan diriku seperti janji mu dulu?"..... sang suami tambah bingung karena menurut perasaannya dia udah memberikan segala kepemilikan dan usahanya untuk isteri tercinta tapi kok ga berterima kasih juga..... ini juga menegaskan bahwa ukuran standar pelayanan itu perlu disepakati dengan jelas dan rinci khan ? berapa mobil yang harus dimiliki oleh isterinya, berapa besar ukuran rumah yang harus dibangun dan disediakan oleh sang suami, berapa kali isteri melayani suaminya, berapa uang belanja yang harus disediakan de el el de es be adalah ukuran standar pelayanan yang harusnya disepakati sebelum mereka menikah ! (biar ga pada protes suatu hari nanti)....
iya sih.. kita orang-orang timur ini khan emang kadang sungkan (=malu2 kucing) kalo harus menuliskan kesepakatan-kesepakatan model begituh.. liat aja ketika seorang calon pegawai diwawancara, "berapa gaji yang Anda harapkan dari pekerjaan ini?" ..umumnya kita menjawab "terserah Anda aja deh yang penting cukup (buat beli ini itu)".... ketika ia diterima bekerja dan mendapatkan gaji, ia baru protes ato minimal ngegerundel "kenapa gaji gue cuman segini ?!".. saya berkeyakinan kalo pegawai itu menyampaikan protes kepada pimpinannya, si bos akan nanya balik "kenapa lo ga ngomong dari dulu ?!"
saya tidak mengatakan bahwa malu itu jelek karena saya juga meyakini bahwa "malu adalah sebagian dari iman" tapi tentu saja malu yang dimaksudkan disini adalah malu yang pada tempatnya, bukan yang malu-maluin. untuk hal-hal yang kira-kita membawa potensi "perselisihan" di masa mendatang ga da salahnya khan kalo kita menuliskan kesepakatan-kesepakatan standar pelayanan (kalo yang kira2 malu untuk dituliskan yaa diinget bersama aja) misalnya warga negara berhak mendapatkan air yang layak minum, kalo air ga layak minum maka kita boleh nuntut pemerintah... warga negara berhak mendapatkan kedamaian, kalo ada yang bikin keributan kita bisa telpon polisi sesuai motto mereka "to serve and protect", warga negara berhak mendapatkan KTP, kita ga usah repot-repot bolak balik ke RT, RW, kelurahan, Camat dll karena itu hak kita, aparat pemerintah yang harus mengantarkannya ke rumah kita..... ga usah jauh-jauh kita liat ke negara maju seperti Amerika yang standar pelayanannya diatur dengan jelas dan diketahui semua masyarakat sampe setiap masyarakat punya buku hak warga negara yang tebelnya mungkin sama dengan buku Harry Potter... di Malaysia aja yang beginian dah diatur, di Malaysia warga negara ga usah sibuk-sibuk bikin akte kelahiran dan KTP karena Pemerintah yang menyediakannya, bahkan bisa sekaligus jadi ATM !.. yaa tentu saja yang beginian harus dibarengi dengan kesadaran untuk membayar pajak.. jangan kayak penulis yang bisanya protes doang, pas diminta bayar pajak ngilang ! hehe
jadi jelas yach arti pentingnya standar pelayanan sekarang ? belom faham? silakan baca lagi dari atas sebelum melanjutkan bacanya :) <-- gaya banget ! :)
kayaknya sich kalo ada ukuran minimal harusnya ada maksimalnya juga ya ? makanya judul tulisan ini adalah standar pelayanan yang mencakup minimal dan maksimal... dengan pola fikir bahwa kebutuhan standar pelayanan ini adalah supaya kita-kita yang terlibat dalam suatu sistem tertentu ga pada bakalai (=berkelahi) suatu saat nanti karena memperebutkan pepesan kosong, beradu argumen bahwa ini ga sesuai, itu ga sesuai padahal ukuran kesesuaiannya juga ga pernah ada ....silakan Anda resapi, standar pelayanan maksimal juga rasanya perlu... kenapa perlu ? jawabannya adalah untuk melindungi hak pelayannya (yang memberikan pelayanan)...
katakankah isteri adalah yang menerima layanan, suami yang memberi pelayanan, dan katakanlah pelayanannya adalah memberi uang belanja dengan besaran Rp 5 juta perhari (kekecilan yah? gapapa namanya juga contoh)... jika 5 juta itu adalah ukuran kelayakan kehidupan isteri, maka kita juga perlu mempertimbangkan kesanggupan suaminya yang kemudian dijadikan standar pelayanan maksimalnya katakanlah Rp. 100 juta/hari.... jika suatu hari nanti suami hanya bisa memberi Rp 3 juta/hari maka isteri boleh menggugat cerai suaminya, dan jika suatu saat suami mendapat penghasilan Rp 500 juta per hari maka hak isteri untuk minta uang kepada suaminya hanya Rp 100 juta saja, sisanya ? yaa terserah suami dong.. mo jajan apa kek dengan 400 jutanya... suka2 dia lah...
supaya adil, contohnya kita balik, jika isteri jadi pelayan dan suami yang menerima pelayanan... katakanlah pelayanan isteri minimal adalah 5x nyuci dan nyetrikain baju suaminya per hari dan maksimal 10 baju per jam... jika suatu saat baju suaminya yang 5 lemari itu kotor semua, suami ga boleh memaksakan isterinya untuk nyuci dan nyetrika semuanya dalam satu jam beres semua... begitu dech....
gitu kira-kira pendapat saya mengenai standar pelayanan ini.. gimana pendapat Anda ? give me a respond, please :)
Kamis, 30 Desember 2010
krisis makna...
berbahagialah kita yang hidup di Indonesia dan Asia pada umumnya karena di negara-negara barat sana, konon khabarnya 20% dari anak mudanya pernah melakukan percobaan bunuh diri, secara statistik dari 20% yang mau bunuh diri itu didominasi kaum hawa. kenapa mereka begitu putus asa ? khabarnya alasan utamanya karena bingung hidup mau ngapain, atau dengan kata lain kurang bisa memaknai hidup begitulah.... para pria mempunyai prosentase yang lebih sedikit mungkin karena mereka kemudian bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya sendiri.. (kale)..
mungkin kita merasa heran, kenapa pemuda-pemudi di negara barat bisa berfikiran begitu, sedangkan kita yang hidup di negara terbelakang aja bisa hidup enjoy dan adem ayem aja sekalipun lingkungan kita sering dibumbui kecemburuan sosial, saling menjelek-jelekan, saling sikut, saling tendang... tapi kita jarang yang merasa frustasi khan ? slow aja begitu..... alasannya sederhana dan sebenernya kita udah tau jawaban itu dari dulu, yaitu pencapaian materi tidak pernah menjadi jaminan untuk kebahagiaan seseorang!
mungkin Anda sering mendengar ceritera tentang seorang direktur perusahaan bonafid yang mendapatkan fasilitas serba wah, gaji yang besar, karier yang bagus begitu saja mengundurkan diri karena ia kehilangan kesempatan untuk hidup lebih banyak bersama keluarga... ia tidak dapat memaknai hidupnya sekalipun segala kelebihan ada pada dirinya karena makna hidup yang sebenarnya untuk dirinya adalah ketika ia berada dekat dengan keluarganya...
motif hidup manusia yang menurut Freud hanya sebatas agresi dan sex kini ditentang habis oleh murid-muridnya sendiri. Ia (Freud) yang beranggapan bahwa mencintai tetangga seperti mencintai dirinya sendiri adalah hal yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia sebenarnya sangat bertentangan dengan prinsip hidup manusia yang selalu mencari makna dalam hidupnya.. makna hidup seseorang pada dasarnya adalah ketika ia dicintai, mencintai, bermanfaat buat diri dan lingkungannya, ummat manusia pada dasarnya adalah satu kesatuan yang utuh, melukai hati sesama sama dengan menyakiti dan merugikan diri sendiri dengan atau tanpa disadari... kita semua adalah satu.. all for one, one for all....
sayangnya jarang sekali diantara kita yang mempedulikan arti pentingnya makna hidup kita, bahkan ada seloroh bahwa negara kita saat ini lebih materialistis dari negara-negara barat, kenapa ? mungkin karena pertahanan budaya kita tidak dapat menahan begitu besarnya gelombang pengaruh asing yang datang silih berganti... anak-anak kita kemudian salah belajar, terlalu berkiblat pada budaya barat yang menurutnya adalah orientasi akhir dari segala tujuan hidup para pengikutnya.... dosen saya yang brilian pernah berujar "kalo mau belajar teknologi silakan ke negara barat tapi jika kita ingin mendalami sosial, makna hidup, persaudaraan maka kita tidak perlu pergi kemana-mana"....
kesalahan pandangan membuat kita mengikuti arah yang kurang tepat sedemikian sehingga kita dibingungkan oleh fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan sendiri.. saat ini kita dibingungkan oleh semakin banyaknya orang - orang agamis, bergelar haji, rajin ke mesjid, beribadah ke gereja, ke pure, pandai bersilat lidah tapi kenyataannya tingkat kejahatan semakin meningkat, koruspi semakin meraja lela, pelanggaran hak asasi manusia semakin mewabah sampai ke komunitas terkecil yaitu keluarga....
untung saja kemudian ada yang dapat menjelaskan, Danah Zohar dalam buku "kecerdasan spiritual" memberikan gambaran bahwa "tingkat keagamisan" seseorang tidak ada kaitannya dengan kecerdasan spiritualnya, bisa saja orang yang agamis mempuyai tingkat kecerdasan spiritual yang rendah, sebaliknya mereka yang atheis (tidak bertuhan) justeru memiliki tingkat kecerdasan spiritual yang tinggi... dengan begitu mungkin kita tidak heran jika ternyata mereka yang tidak beragama justru lebih jujur, peduli terhadap lingkungan, bertanggung jawab dibanding mereka yang mengklaim sebagai manusia-manusia agamis tapi rajin menyakiti sesamanya... agama atau keyakinan apapun jika diartikan secara dangkal -menurut Zohar- dapat dipandang sebagai dogma yang harus diikuti dengan tidak adanya peluang untuk "membantahnya" (=mengkajinya lebih dalam) sedemikian sehingga para pengikut bisa mengerti makna yang sebenarnya...
Danah Zohar dalam bukunya diatas juga mengakui dengan jujur bahwa saat ini di negara barat telah terjadi krisis pemaknaan hidup.. mereka memang mempunyai kelebihan di bidang teknologi yang berarti tingkat IQ nya tinggi, namun dilihat dari kesadaran diri jelas mereka ketinggalan dibanding negara-negara timur (Asia pada umumnya, termasuk Indonesia?).. jika memang demikian adanya kemudian kenapa kita masih saja mengagung-agungkan faham, budaya, ajaran yang datang dari barat ? kenapa tidak kita pelajari saja kelebihan teknologi mereka dengan tidak menghilangkan budaya sendiri yang jelas lebih maju dan mereka mengakuinya ? just think about it...
penyimpangan perilaku seperti banyaknya orang alim yang melakukan kejahatan (baik kecil2an ataupun besar2an) mungkin bisa kita minimalisir jika kita menyadari makna sebenarnya dalam hidup ini....tiap orang bisa memperoleh makna hidupnya dengan cara yang berbeda-beda yang tentu saja akan sangat bervariasi tergantung kemampuan dan pengaruh lingkungan ketika ia sedang berusaha memaknai sesuatu.... mungkin mudahnya bisa kita analogikan bahwa otak manusia itu ibarat sebuah pintu yang membutuhkan kunci yang tepat untuk membukanya.. dan tentu saja kunci Anda sangat berbeda dengan kunci saya dan kunci tetangga.. tapi jelas bahwa kunci itu ada di sekitar kita, tidak perlu jauh untuk mencarinya karena kunci itu ada pada keyakinan kita sendiri.....
jika saja kita mampu menjawab pertanyaan sendiri, menenangkan gelora kebingungan sendiri, memaknai hidup kita sendiri maka mungkin kita tidak perlu mengalami krisis makna seperti yang tengah terjadi pada tetangga-tetangga kita.... dan siapa tau kehadiran kita memberi inspirasi untuk kedamaian secara keseluruhan.... amiin...:)
mungkin kita merasa heran, kenapa pemuda-pemudi di negara barat bisa berfikiran begitu, sedangkan kita yang hidup di negara terbelakang aja bisa hidup enjoy dan adem ayem aja sekalipun lingkungan kita sering dibumbui kecemburuan sosial, saling menjelek-jelekan, saling sikut, saling tendang... tapi kita jarang yang merasa frustasi khan ? slow aja begitu..... alasannya sederhana dan sebenernya kita udah tau jawaban itu dari dulu, yaitu pencapaian materi tidak pernah menjadi jaminan untuk kebahagiaan seseorang!
mungkin Anda sering mendengar ceritera tentang seorang direktur perusahaan bonafid yang mendapatkan fasilitas serba wah, gaji yang besar, karier yang bagus begitu saja mengundurkan diri karena ia kehilangan kesempatan untuk hidup lebih banyak bersama keluarga... ia tidak dapat memaknai hidupnya sekalipun segala kelebihan ada pada dirinya karena makna hidup yang sebenarnya untuk dirinya adalah ketika ia berada dekat dengan keluarganya...
motif hidup manusia yang menurut Freud hanya sebatas agresi dan sex kini ditentang habis oleh murid-muridnya sendiri. Ia (Freud) yang beranggapan bahwa mencintai tetangga seperti mencintai dirinya sendiri adalah hal yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia sebenarnya sangat bertentangan dengan prinsip hidup manusia yang selalu mencari makna dalam hidupnya.. makna hidup seseorang pada dasarnya adalah ketika ia dicintai, mencintai, bermanfaat buat diri dan lingkungannya, ummat manusia pada dasarnya adalah satu kesatuan yang utuh, melukai hati sesama sama dengan menyakiti dan merugikan diri sendiri dengan atau tanpa disadari... kita semua adalah satu.. all for one, one for all....
sayangnya jarang sekali diantara kita yang mempedulikan arti pentingnya makna hidup kita, bahkan ada seloroh bahwa negara kita saat ini lebih materialistis dari negara-negara barat, kenapa ? mungkin karena pertahanan budaya kita tidak dapat menahan begitu besarnya gelombang pengaruh asing yang datang silih berganti... anak-anak kita kemudian salah belajar, terlalu berkiblat pada budaya barat yang menurutnya adalah orientasi akhir dari segala tujuan hidup para pengikutnya.... dosen saya yang brilian pernah berujar "kalo mau belajar teknologi silakan ke negara barat tapi jika kita ingin mendalami sosial, makna hidup, persaudaraan maka kita tidak perlu pergi kemana-mana"....
kesalahan pandangan membuat kita mengikuti arah yang kurang tepat sedemikian sehingga kita dibingungkan oleh fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan sendiri.. saat ini kita dibingungkan oleh semakin banyaknya orang - orang agamis, bergelar haji, rajin ke mesjid, beribadah ke gereja, ke pure, pandai bersilat lidah tapi kenyataannya tingkat kejahatan semakin meningkat, koruspi semakin meraja lela, pelanggaran hak asasi manusia semakin mewabah sampai ke komunitas terkecil yaitu keluarga....
untung saja kemudian ada yang dapat menjelaskan, Danah Zohar dalam buku "kecerdasan spiritual" memberikan gambaran bahwa "tingkat keagamisan" seseorang tidak ada kaitannya dengan kecerdasan spiritualnya, bisa saja orang yang agamis mempuyai tingkat kecerdasan spiritual yang rendah, sebaliknya mereka yang atheis (tidak bertuhan) justeru memiliki tingkat kecerdasan spiritual yang tinggi... dengan begitu mungkin kita tidak heran jika ternyata mereka yang tidak beragama justru lebih jujur, peduli terhadap lingkungan, bertanggung jawab dibanding mereka yang mengklaim sebagai manusia-manusia agamis tapi rajin menyakiti sesamanya... agama atau keyakinan apapun jika diartikan secara dangkal -menurut Zohar- dapat dipandang sebagai dogma yang harus diikuti dengan tidak adanya peluang untuk "membantahnya" (=mengkajinya lebih dalam) sedemikian sehingga para pengikut bisa mengerti makna yang sebenarnya...
Danah Zohar dalam bukunya diatas juga mengakui dengan jujur bahwa saat ini di negara barat telah terjadi krisis pemaknaan hidup.. mereka memang mempunyai kelebihan di bidang teknologi yang berarti tingkat IQ nya tinggi, namun dilihat dari kesadaran diri jelas mereka ketinggalan dibanding negara-negara timur (Asia pada umumnya, termasuk Indonesia?).. jika memang demikian adanya kemudian kenapa kita masih saja mengagung-agungkan faham, budaya, ajaran yang datang dari barat ? kenapa tidak kita pelajari saja kelebihan teknologi mereka dengan tidak menghilangkan budaya sendiri yang jelas lebih maju dan mereka mengakuinya ? just think about it...
penyimpangan perilaku seperti banyaknya orang alim yang melakukan kejahatan (baik kecil2an ataupun besar2an) mungkin bisa kita minimalisir jika kita menyadari makna sebenarnya dalam hidup ini....tiap orang bisa memperoleh makna hidupnya dengan cara yang berbeda-beda yang tentu saja akan sangat bervariasi tergantung kemampuan dan pengaruh lingkungan ketika ia sedang berusaha memaknai sesuatu.... mungkin mudahnya bisa kita analogikan bahwa otak manusia itu ibarat sebuah pintu yang membutuhkan kunci yang tepat untuk membukanya.. dan tentu saja kunci Anda sangat berbeda dengan kunci saya dan kunci tetangga.. tapi jelas bahwa kunci itu ada di sekitar kita, tidak perlu jauh untuk mencarinya karena kunci itu ada pada keyakinan kita sendiri.....
jika saja kita mampu menjawab pertanyaan sendiri, menenangkan gelora kebingungan sendiri, memaknai hidup kita sendiri maka mungkin kita tidak perlu mengalami krisis makna seperti yang tengah terjadi pada tetangga-tetangga kita.... dan siapa tau kehadiran kita memberi inspirasi untuk kedamaian secara keseluruhan.... amiin...:)
(satu tips untuk kita semua : jangan berhenti bertanya kenapa dan bagaimana)
Minggu, 31 Oktober 2010
teknis dan administrasi.....
menurut ahli administrasi " hanya 30% dari pekerjaan kita yang berupa urusan teknis, sisanya yang 70% adalah urusan administrasi"... birokrat pengalaman tentu saja menyadari hal ini, bahkan ada yang mengatakan bahwa, "pekerjaan kita ini 20% teknis dan 80% sisanya berupa pekerjaan non-teknis !".....
hmmmm.... ini rupanya penjelasan kenapa banyak sekali organisasi2 teknis yang dipenuhi oleh orang2 non-teknis... perhatikan saja personil yang ada di lingkungan Anda bekerja... katakanlah organisasi Anda mengurusi teknis transportasi seperti di tempat saya... sedikit tuch yang orang teknis.... sisanya ada yang produk akademi sekretaris, produk sekolah hukum, produk sekolah komputeerr.. sangat bervariasi.. sangat beralasan berita yang ada di media nasional yang mengatakan bahwa pengusaan teknis para personil di instansi teknis hanya dalam kisaran 17 % saja....
mengacu pada wacana pada paragraf pertama, hal ini malah dapat dipandang bagus karena dala kenyataannya organisasi teknis juga kebanyakan mengurusi masalah administrasi dan non-teknis.... lagi pula Anda inget apa kata Pak JK yang kurang lebih begini: "ahli ekonomi sekarang pintar mengurusi masalah teknis, pemerintahan, pertanian dll dsb kecuali masalah ekonomi, orang administrasi juga paling pinter masalah teknis, masalah hukum, perdagangan dll dsb kecuali masalah administrasi.. demikian pula orang teknis sekarang yang pinter ngurusi masalah administrasi, sosial, politik, dll dsb kecuali masalah teknis bidangnya sendiri!"... kesimpulannya latar belakang pendidikan personil non-teknis di bidang teknis juga bagus khan ? karena memang mereka paling pinter kalo ngobrolin masalah teknis! wkwkwkwk....
hmmmm.... ini rupanya penjelasan kenapa banyak sekali organisasi2 teknis yang dipenuhi oleh orang2 non-teknis... perhatikan saja personil yang ada di lingkungan Anda bekerja... katakanlah organisasi Anda mengurusi teknis transportasi seperti di tempat saya... sedikit tuch yang orang teknis.... sisanya ada yang produk akademi sekretaris, produk sekolah hukum, produk sekolah komputeerr.. sangat bervariasi.. sangat beralasan berita yang ada di media nasional yang mengatakan bahwa pengusaan teknis para personil di instansi teknis hanya dalam kisaran 17 % saja....
mengacu pada wacana pada paragraf pertama, hal ini malah dapat dipandang bagus karena dala kenyataannya organisasi teknis juga kebanyakan mengurusi masalah administrasi dan non-teknis.... lagi pula Anda inget apa kata Pak JK yang kurang lebih begini: "ahli ekonomi sekarang pintar mengurusi masalah teknis, pemerintahan, pertanian dll dsb kecuali masalah ekonomi, orang administrasi juga paling pinter masalah teknis, masalah hukum, perdagangan dll dsb kecuali masalah administrasi.. demikian pula orang teknis sekarang yang pinter ngurusi masalah administrasi, sosial, politik, dll dsb kecuali masalah teknis bidangnya sendiri!"... kesimpulannya latar belakang pendidikan personil non-teknis di bidang teknis juga bagus khan ? karena memang mereka paling pinter kalo ngobrolin masalah teknis! wkwkwkwk....
Selasa, 14 September 2010
penyebab kemacetan lalulintas....
gambaran kemacetan di jalan2 adalah sebagai berikut :
pengaturan hierarki ini selain untuk memudahkan pengaturan lalu lintas juga untuk menjaga agar tingkat pelayanan jalan tetap terjaga. persilangan hanya diijinkan untuk jalan dengan kelas atau fungsi yang sama atau setingkat dibawahnya, sebagai contoh jalan arteri hanya boleh bersilangan dengan jalan arteri lagi atau dengan jalan kolektor. dalam kenyataannya pada jalan arteri ditemukan akses langsung menuju pusat kegiatan dengan skala kecil yang tersebar merata sepanjang jalan tersebut...
sebagai sharing, sepengetahuan saya ketiga hal diatas dapat dipandang sebagai masalah menggejala (manifest problem) dan bukan masalah yang sebenarnya (root problem)nya. bisa jadi penyebab tidak terkendalinya tata guna lahan adalah kurangnya kesadaran ketika penetapan kebijakan perencanaan kota, bisa jadi penyebab tidak dipenuhinya hierarki jalan adalah kurangnya perhatian pemerintah dalam pembangunan infrastruktur, bisa jadi penyebab rendahnya disiplin pengguna jalan adalah kurangnya kesadaran pengguna yang sudah terlanjur hidup di dunia yang serba instant dan serba memaksakan kehendak..
ato bisa jadi di negara kita terlalu banyak orang yang memilih profesi sebagai pengamat dan komentator saja tanpa mau melakukan perbaikan (seperti yang penulis blog ini)..... bisa segala macam penyebab.. tapi kita semua berkeyakinan bahwa kita semua menginginkan perbaikan untuk kepentingan bersama.. dan itu bisa kita awali dengan menanamkan kesadaran pada diri kita sendiri terlebih dahulu.... semoga....
pengendalian tata guna lahan yang lemah
ini adalah masalah kekurangsesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan. sebagai contoh guna lahan yang awalnya direncanakan untuk perkantoran berubah menjadi pusat perdagangan dan jasa, kawasan lindung menjadi perumahan... pembangunan pusat-pusat kegiatan seperti ini akan menarik pembangunan pusat kegiatan pendukung seperti rumah makan, bank, pom bensin dan lain sebagainya..pengaturan hierarki ini selain untuk memudahkan pengaturan lalu lintas juga untuk menjaga agar tingkat pelayanan jalan tetap terjaga. persilangan hanya diijinkan untuk jalan dengan kelas atau fungsi yang sama atau setingkat dibawahnya, sebagai contoh jalan arteri hanya boleh bersilangan dengan jalan arteri lagi atau dengan jalan kolektor. dalam kenyataannya pada jalan arteri ditemukan akses langsung menuju pusat kegiatan dengan skala kecil yang tersebar merata sepanjang jalan tersebut...
disiplin pengguna jalan yang rendah..
angkutan umum dan kendaraan pribadi yang berhenti dan parkir di badan jalan untuk mencari penumpang atau belanja di sisi jalan, pejalan kaki yang menyeberang jalan tidak pada tempatnya, tidak dipatuhinya rambu-rambu lalulintas seolah menjadi pemandangan sehari-hari di lingkungan kita.. yang jelas hal tersebut sangat potensial menimbulkan "blocking back effect" (penguncian arus lalulintas yang berdampak pada terhentinya lalulintas di belakangnya) sebagaimana diperlihatkan pada gambar disamping...sebagai sharing, sepengetahuan saya ketiga hal diatas dapat dipandang sebagai masalah menggejala (manifest problem) dan bukan masalah yang sebenarnya (root problem)nya. bisa jadi penyebab tidak terkendalinya tata guna lahan adalah kurangnya kesadaran ketika penetapan kebijakan perencanaan kota, bisa jadi penyebab tidak dipenuhinya hierarki jalan adalah kurangnya perhatian pemerintah dalam pembangunan infrastruktur, bisa jadi penyebab rendahnya disiplin pengguna jalan adalah kurangnya kesadaran pengguna yang sudah terlanjur hidup di dunia yang serba instant dan serba memaksakan kehendak..
ato bisa jadi di negara kita terlalu banyak orang yang memilih profesi sebagai pengamat dan komentator saja tanpa mau melakukan perbaikan (seperti yang penulis blog ini)..... bisa segala macam penyebab.. tapi kita semua berkeyakinan bahwa kita semua menginginkan perbaikan untuk kepentingan bersama.. dan itu bisa kita awali dengan menanamkan kesadaran pada diri kita sendiri terlebih dahulu.... semoga....
Selasa, 24 Agustus 2010
income wajar berdasar pengeluaran transportasi...
"pengeluaran untuk transportasi tidak lebih dari 10% per bulan" itu doktrin dalam dunia transportasi mengenai pengeluaran yang wajar untuk biaya transport. doktrin itu bisa kita pakai buat menghitung ato memprediksikan pendapatan (income) yang wajar, khan ? yaa gampang.. tinggal kita bulak-balik aja! hehe...
jika alat transportasi kita untuk bekerja, belanja, nganter anak2 sekolah adalah sebuah sepeda motor yang Anda beli dengan cara kredit dengan cicilan Rp 350.000,00/bulan. penggunaan bahan bakar rata-rata per bulan adalah Rp 100.000,00, biaya perawatan (service besar dan kecil) rata-rata per bulan = Rp 35.000,00. bila ditotalkan maka pengeluaran Anda untuk mengurusi sepeda motor Anda adalah : Rp.350.000,00 + Rp 100.000,00 + Rp. 35.000,00 =Rp 485.000,00/bulan dan income wajar Anda berdasar pengeluaran transportasi dengan demikian adalah Rp 4.850.000,00 / bulan... (catatan : angka ini belum memperhitungkan biaya parkir, pengurusan SIM, STNK, dll)..
nah! jika kendaraan yang Anda gunakan adalah mobil pribadi (katakanlah sebagai sample Anda memakai mobil sejuta ummat yaitu daihatsu xenia) dan Anda membelinya dengan kredit dan cicilan Rp. 3.500.000,00/bulan. penggunaan bahan bakar rata-rata per bulan Rp 500.000,00, biaya perawatan Rp 150.000,00, dan rata-rata pengeluaran untuk menggunakan kendaraan tersebut adalah Rp 3.500.000,00 + Rp. 500.000,00 + Rp 150.000,00 = Rp. 4.150.000,00/bulan. income wajar berdasar pengeluaran tersebut adalah Rp. 41.500.000,00 / bulan....
berdasar perhitungan tersebut, kita juga bisa mendapatkan gambaran bahwa kondisi sekarang banyak sekali masyarakat yang membeli barang-barang yang "belum waktunya" atau dengan kata lain "memaksakan keinginan" begitu kale yach ? jadi wajar sekarang banyak orang-orang yang keliatan "wah" tapi baru mobilnya kegores dikit ajah udah uring-uringan ! hehehhe.. kaleee ntu juga :) :)
jika alat transportasi kita untuk bekerja, belanja, nganter anak2 sekolah adalah sebuah sepeda motor yang Anda beli dengan cara kredit dengan cicilan Rp 350.000,00/bulan. penggunaan bahan bakar rata-rata per bulan adalah Rp 100.000,00, biaya perawatan (service besar dan kecil) rata-rata per bulan = Rp 35.000,00. bila ditotalkan maka pengeluaran Anda untuk mengurusi sepeda motor Anda adalah : Rp.350.000,00 + Rp 100.000,00 + Rp. 35.000,00 =Rp 485.000,00/bulan dan income wajar Anda berdasar pengeluaran transportasi dengan demikian adalah Rp 4.850.000,00 / bulan... (catatan : angka ini belum memperhitungkan biaya parkir, pengurusan SIM, STNK, dll)..
nah! jika kendaraan yang Anda gunakan adalah mobil pribadi (katakanlah sebagai sample Anda memakai mobil sejuta ummat yaitu daihatsu xenia) dan Anda membelinya dengan kredit dan cicilan Rp. 3.500.000,00/bulan. penggunaan bahan bakar rata-rata per bulan Rp 500.000,00, biaya perawatan Rp 150.000,00, dan rata-rata pengeluaran untuk menggunakan kendaraan tersebut adalah Rp 3.500.000,00 + Rp. 500.000,00 + Rp 150.000,00 = Rp. 4.150.000,00/bulan. income wajar berdasar pengeluaran tersebut adalah Rp. 41.500.000,00 / bulan....
berdasar perhitungan tersebut, kita juga bisa mendapatkan gambaran bahwa kondisi sekarang banyak sekali masyarakat yang membeli barang-barang yang "belum waktunya" atau dengan kata lain "memaksakan keinginan" begitu kale yach ? jadi wajar sekarang banyak orang-orang yang keliatan "wah" tapi baru mobilnya kegores dikit ajah udah uring-uringan ! hehehhe.. kaleee ntu juga :) :)
Minggu, 15 Agustus 2010
Rabu, 11 Agustus 2010
kayak di hutan.....
"kalo Anda mau ke hutan coba jalan2 di Inggris!" gitu kata orang Jerman untuk menggambarkan kesemrawautan lalulintas di Inggris. Mungkin orang Jerman yang ngomong begini belum pernah liat kondisi lalulintas di negara kita tercinta.. coba bayangin kalo lalulintas di Inggris aja yang begitu teraturnya dianggap seperti di hutan, lha jalan kita kayak apa yach kata mereka ??
coba Anda temukan perbedaan dua foto diatas.. apa bedanya ? ga ada bedanya khan ?
gambar diatas ada kijang, zebra, panther, bebek, dll dsb sedangkan dibawah ada burung, menjangan, ayam dll.. sama2 banyak binatangnya khan ? perhatikan pula bahwa di foto atas dan bawah juga sama2 tidak ada aturan yang mengikat siapapun yang berada di sana, siapapun bisa parkir di badan jalan, bisa memotong jalur orang lain dengan cukup memberi klaksok, malah kadang tanpa memberi isyarat apapun.. pejalan kaki dibiarkan berjalan dan bersaing dengan kendaraan dengan tanpa pemisahan mana lajur untuk kendaraan dan mana lajur untuk pejalan kaki, sekalipun disediakan kemudian dipakai oleh pedagang kaki lima.... hayooo.. apa bedanya semua itu dengan di hutan ??? sama khan ? :)
dan taukah Anda bahwa angka kecelakaan lalulintas di jalan2 kita terus meningkat setiap tahunnya ? jauh lebih besar daripada korban yang diakibatkan kebuasan binatang -binatang di hutan... berita baiknya adalah kita "fine2" aja tuch.... :(
![]() |
| gambar dari :sutris.blogspot.com |
gambar diatas ada kijang, zebra, panther, bebek, dll dsb sedangkan dibawah ada burung, menjangan, ayam dll.. sama2 banyak binatangnya khan ? perhatikan pula bahwa di foto atas dan bawah juga sama2 tidak ada aturan yang mengikat siapapun yang berada di sana, siapapun bisa parkir di badan jalan, bisa memotong jalur orang lain dengan cukup memberi klaksok, malah kadang tanpa memberi isyarat apapun.. pejalan kaki dibiarkan berjalan dan bersaing dengan kendaraan dengan tanpa pemisahan mana lajur untuk kendaraan dan mana lajur untuk pejalan kaki, sekalipun disediakan kemudian dipakai oleh pedagang kaki lima.... hayooo.. apa bedanya semua itu dengan di hutan ??? sama khan ? :)
dan taukah Anda bahwa angka kecelakaan lalulintas di jalan2 kita terus meningkat setiap tahunnya ? jauh lebih besar daripada korban yang diakibatkan kebuasan binatang -binatang di hutan... berita baiknya adalah kita "fine2" aja tuch.... :(
Selasa, 10 Agustus 2010
banyak yang punya empang (=balong, tempat memelihara ikan)....
"waahhh.. hebat sekarang temen2 punya empang (=balong, tempat memelihara ikan) depan rumah masing2!" gitu kata temen saya yang baru dateng keliling kota.... kita yang ndenger heran sekali, "masa sich di kota pada bikin empang ?" pan lahan di kota udah sempit sekali makanya trotoar aja pada dipake buat jualan mungkin khan karena lahan udah gada lagi.. ini kok bisa2nya temen2 pada punya empang di dalam kota.. udah pada kaya kale temen2 sekarang.....
setelah sadar, kita baru pada ngakak semua karena ternyata empang yang dimaksud temen itu adalah lubang-lubang di jalan yang menjadi seperti empang pada saat hujan... air tidak mengalir ke saluran karena saluran yang ada kurang dipelihara dan diperhatikan, yang ada malahan pemilik rumah yang berada d pinggir jalan berlomba2 untuk meninggikan bangunan mereka masing-masing supaya pada saat banjir, air tidak masuk ke rumah, "pikirin amat saluran air mah!" kata mereka.. jadi dech setiap rumah punya empang.... lahan bagi pedagang benih ikan nich ! hehehe...
setelah sadar, kita baru pada ngakak semua karena ternyata empang yang dimaksud temen itu adalah lubang-lubang di jalan yang menjadi seperti empang pada saat hujan... air tidak mengalir ke saluran karena saluran yang ada kurang dipelihara dan diperhatikan, yang ada malahan pemilik rumah yang berada d pinggir jalan berlomba2 untuk meninggikan bangunan mereka masing-masing supaya pada saat banjir, air tidak masuk ke rumah, "pikirin amat saluran air mah!" kata mereka.. jadi dech setiap rumah punya empang.... lahan bagi pedagang benih ikan nich ! hehehe...
Senin, 09 Agustus 2010
mengukur kepedulian masyarakat......
kata Jefrey Winters, "masalah di negara kita ada tiga, pertama pemimpin yang korup, dua masyarakat yang susah diatur, tiga penegakkan hukum yang lemah....".. hal ini disampaikan waktu negara kita mengalami krisis moneter Tahun 97 yang memporak-porandakan perekonomian negara sekaligus membukakan mata kita semua bahwa negara kita yang didengung2kan bisa jadi Macan Asia ternyata lemah luar-dalam.....
masalah pemimpin yang korup, mungkin udah disadari oleh kita semua, makanya sekarang ada KPK, ada ICW, ada lembaga2 pengawas keuangan dll dsb.. masalah penegakkan hukum juga terus diperbaiki dengan banyaknya peraturan yang membatasi aparat pemerintah untuk melakukan penyimpangan... lembaga2 bantuan hukum buat masyarakat juga mulai banyak bertebaran di negara kita... nah kalo masalah kesadaran masyarakat bagaimana ? apa yang telah kita upayakan dan apa ukuran bahwa itu telah dilakukan secara berkelanjutan ?
seperti dua hal yang lain, masalah kesadaran hukum emang sulit ngukurnya, mau ngukur pake apaan coba ? meteran ? timbangan ? ato literan ? susah khan ? ach... daripada pusing2, saya mo merekomendasikan cara untuk mengukur kesadaran masyarakat dari perbaikan jalan aja dech....
begini... ada yang bilang bahwa "kesadaran masyarakat bisa dilihat dari disiplinnya di jalan"... saya pelesetkan sedikit jadi "kesadaran masyarakat dapat dilihat dari kepeduliannya untuk memperbaiki jalan yang ada di depan rumahnya"... jika kita melihat masyarakat mau memperbaiki jalan yang didepan rumahnya dengan inisiatif sendiri maka itu artinya kesadaran masyarakat udah bagus, sebaliknya jika rumah masyarakat bagus-bagus, keren, bertingkat .. tapi jalan di depan rumahnya dibiarkan jelek2 maka itu artinya kesadaran masyarakat kita masih memprihatinkan....
ide pengukuran kesadaran masyarakat dengan cara ini tidak dimaksudkan untuk mencari2 kambing hitam karena tentu saja kalo kita menyalahkan rumah orang yang bagus dan jelan yang jelek, ada kemungkinan pemilik rumah ga khan terima dan nyerang balik ke kita : "lha elo yang tiap hari lewat depan rumah gua juga ga peduli kok ?" .... saya cuman cari metode yang gampang aja untuk mempermudah pengukuran kesadaran.. kalo semua nyadar khan enak kaleee.....
gimana pendapat penonton ????? :) :)
masalah pemimpin yang korup, mungkin udah disadari oleh kita semua, makanya sekarang ada KPK, ada ICW, ada lembaga2 pengawas keuangan dll dsb.. masalah penegakkan hukum juga terus diperbaiki dengan banyaknya peraturan yang membatasi aparat pemerintah untuk melakukan penyimpangan... lembaga2 bantuan hukum buat masyarakat juga mulai banyak bertebaran di negara kita... nah kalo masalah kesadaran masyarakat bagaimana ? apa yang telah kita upayakan dan apa ukuran bahwa itu telah dilakukan secara berkelanjutan ?
seperti dua hal yang lain, masalah kesadaran hukum emang sulit ngukurnya, mau ngukur pake apaan coba ? meteran ? timbangan ? ato literan ? susah khan ? ach... daripada pusing2, saya mo merekomendasikan cara untuk mengukur kesadaran masyarakat dari perbaikan jalan aja dech....
begini... ada yang bilang bahwa "kesadaran masyarakat bisa dilihat dari disiplinnya di jalan"... saya pelesetkan sedikit jadi "kesadaran masyarakat dapat dilihat dari kepeduliannya untuk memperbaiki jalan yang ada di depan rumahnya"... jika kita melihat masyarakat mau memperbaiki jalan yang didepan rumahnya dengan inisiatif sendiri maka itu artinya kesadaran masyarakat udah bagus, sebaliknya jika rumah masyarakat bagus-bagus, keren, bertingkat .. tapi jalan di depan rumahnya dibiarkan jelek2 maka itu artinya kesadaran masyarakat kita masih memprihatinkan....
ide pengukuran kesadaran masyarakat dengan cara ini tidak dimaksudkan untuk mencari2 kambing hitam karena tentu saja kalo kita menyalahkan rumah orang yang bagus dan jelan yang jelek, ada kemungkinan pemilik rumah ga khan terima dan nyerang balik ke kita : "lha elo yang tiap hari lewat depan rumah gua juga ga peduli kok ?" .... saya cuman cari metode yang gampang aja untuk mempermudah pengukuran kesadaran.. kalo semua nyadar khan enak kaleee.....
gimana pendapat penonton ????? :) :)
Langganan:
Postingan (Atom)








